Sunday, April 20, 2014

5 Perisai Kedamaian

Pada suatu hari, seorang putera mahkota sedang berdialog dengan penasehat kerajaan. Sebagai putera mahkota, dia merasa harus tahu banyak hal, tidak hanya tentang tata laksana di kerajaan, tetapi juga tentang kebijaksanaan hidup.

"Wahai guru penasehat, aku ingin mengetahui bagaimana cara kita bisa hidup dengan damai dan nyaman. Bisakah kau memberiku nasehat tentang hal itu Guru penasehat?" tanya sang putera mahkota

"Hmm... pertanyaan yang bagus sekali pangeran. Hamba bangga kerajaan ini memiliki putera mahkota sepertimu. Sebelum hamba menjawab, sudikah pangeran menjelaskan kepada hamba, kenapa pangeran menanyakan hal tersebut?" kata penasehat sambil menatap putera mahkota.

"Terima kasih guru penasehat. Begini, untuk menjadi pemimpin, tentu tidak hanya pengetahuan tentang tata laksana kerajaan saja yang diperlukan, tetapi juga kemampuan untuk mengelola diri. Agar tetap tenang, bisa menjadi panutan bagi siapapun yang dipimpinnya" jawab putera mahkota mantap.

"Baiklah pangeran, hamba akan sampaikan mengenai 5 perisai kedamaian" kata Guru penasehat lagi.
"Menarik sekali guru, apakah itu 5 perisai kedamaian?" tanya putera mahkota lagi.

"Begini pangeran, ada 5 perisai yang saat kita mendalami dan mempraktikannya kita akan jauh lebih nyaman dalam menjalani hidup ini. Perisai pertama adalah tidak menyesali masa lalu " terang  penasehat kerajaan.

"Mengapa kita tidak boleh menyesali masa lalu guru penasehat?" tanya pangeran ingin tahu.
"Hmm... pepatah bijak mengatakan, "masa lalu adalah sejarah, tak akan mungkin terulang kembali. Tak ada gunanya menyesali masa lalu. Yang lebih berguna adalah menjadikan masa lalu sebagai bahan bakar untuk menjalani kehidupan saat ini dengan sebaik-baiknya" jawab penasehat dengan bijak.

"Lalu bagaimana kalau kita pernah membuat keputusan yang salah di masa lalu wahai guru penasehat?" sahut pangeran menanggapi.
"Setiap orang, pasti pernah melakukan kesalahan pangeran. Cukup sadari saja, bahwa keputusan yang kita telah buat di masa lalu, salah atau benar, itu adalah keputusan terbaik yang bisa kita buat. Dengan segenap ilmu, pengalaman, yang kita miliki SAAT ITU" ujar penasehat lagi.

"Hmm...aku bisa pahami guru penasehat, terima kasih atas penjelasannya. Masih ada 4 perisai lagi yang ingin aku dengarkan darimu. Hanya aku mohon undur diri sebentar, kanjeng Romo dan Ibu meminta saya menghadap saat ini. Besok mohon guru penasehat berkenan melanjutkan 4 perisai lainnya" kata putera mahkota sambil mohon diri.

"Baiklah pangeran, dengan senang hati hamba akan lanjutkan cerita hamba. Silakan pangeran" kata penasehat menutup pembicaraan.

---to be continued---
 

Sampahmu Membuatku Tak Nyaman Kawan!!

Kawanku... tahukah kau bahwa adanya aku di sini adalah untuk membuatmu bisa tentram dan tenang? Sadarkah kau bahwa memandangku akan membuatmu bisa bernafas lega dengan indahnya diriku? Sadarkah kau bahwa dari akulah kamu bisa menikmati makanan lezat di lidahmu?

Bersama teman-temanmu sering kau kunjungi aku. Bermain bersamaku, merasakan sejuknya lingkungan di sekitarku. Merasakan dinginnya percikan air yang ku hempaskan ke tubuhmu. Aku hamparkan pasir nan luas untuk kau bisa jelajahi itu dengan kendaraanmu atau dengan kakimu sendiri. Aku munculkan nuansa biru dalam pandangan matamu saat kau menatapku sambil merenung. 

Aku pun setia untuk menjadi latar yang indah saat kau ingin abadikan kenangan indahmu bersama kawan yang kau ajak kepadaku. Aku pun rela kau tancapkan tiang-tiang untuk bahan bermainmu bersama rombonganmu. Aku pun tak pernah meminta bayaran atas foto-fotoku yang kau ambil untuk mengisi wallpaper di laptop atau foto profil di jaringan sosial mediamu.

Beberapa kawanmu pun tanpa ampun sering mengambil pasir-pasirku. Membuat keindahanku menjadi semakin berkurang. Saat kau berkunjung, kaupun santap dengan lezat kawan-kawan ikanku. Menemanimu menikmati pemandangan indah bersama aroma ikan bakar yang enak.

Ah,,, tak bermaksud untuk mengungkit-ungkit semuanya kawan. Aku rela memberikan semuanya, karena untuk inilah aku diciptakan olehNya. Aku sudah sangat bersyukur bisa membuatmu tertawa gembira saat mengunjungiku, bermain di hamparan pasirku. Hanya satu permintaanku kawan, tolong perhatikan diriku juga. Agar kapanpun nanti, entah siapapun nantinya yang akan hadir melepaskan penatnya, bisa tetap menikmati indahnya pemandanganku.

Aku merasa tak nyaman saat dengan seenaknya saja kau membuang sampahmu. Aku merasa gerah saat banyak plastik-plastik juga bungkus makanan bersama sisanya mengapung bersama ombakku dan mengotori pantaiku. Aku menangis saat dengan santainya kau tinggalkan aku bukan dengan terima kasih melainkan dengan tumpukan sampah dan kotoran yang kau tinggalkan begitu saja.

Kawanku.. jagalah aku, aku juga ciptaanNya. Maka jagalah aku sebagai wujud terima kasihmu kepadaNya, bukan kepadaku. Jadilah engkau manusia yang memiliki sifat welas asih dan peduli. Saat di negara Indonesia ini begitu banyak 'sampah masyarakat', paling tidak kau selamatkan aku dengan tidak menambahkan sampahmu di sini.

Semoga anak cucumu nanti masih bisa melihatku tetap indah dan bersih...


Salam indah dan damai


Laut

Sunday, April 13, 2014

Manisnya Negeriku

Beberapa hari yang lalu saya diminta berbagi di SMA 8 Yogyakarta. Berbagi ke siswa kelas 12 sebagai penguatan mental mereka sebelum menghadapi UAN yang akan dilaksanakan mulai hari senin 14 April 2014. Ada sebuah semangat yang besar saya rasakan di sana, atmosfir pendidikan yang ada di sekitar sekolah makin membuat saya antusias dalam berbagi ilmu.

Bagaimana tidak, saya 'diberikan' amanah untuk berbagi ke para generasi penerus bangsa ini. Mereka yang nantinya akan menjadi tulang punggun Indonesia untuk menjadi bangsa yang lebih maju. Sebuah tulisan di papan berukuran besar yang ada di pintu gerbang sekolah makin menunjukkan bagaimana komitmen sekolah untuk bangsa  Indonesia.


Keren sekali bukan, semoga tulisan yang terpampang seperti di atas tidak hanya menjadi simbol saja, melainkan juga terinternalisasi dalam jiwa setiap generasi muda Indonesia. Siapa lagi yang bisa kita harapkan untuk membangun bangsa kecuali mereka. Bukan bermaksud menyepelekan generasi senior. Saya yakin dan tahu persis bahwa kontribusi beliau-beliau juga sangat besar. Walaupun untuk saat ini, Indonesia membutuhkan ide-ide baru, pemikiran-pemikiran liar yang itu seharusnya bisa didapatkan dari generasi muda yang masih bersih, belum tercampuri dengan dinamika perpolitikan maupun birokrasi.

Sebuah komentar nyleneh tapi (sepertinya realitanya begitu) dari salah seorang teman saya di FB, mas Arif RH...

"Pemilik negara Indonesia ini kan rakyat. Nah pemerintah itu adalah "karyawannya" rakyat. Sehingga sebenarnya seluruh uang yang bererdar itu adalah uang rakyat. Alias, rakyatlah yang membayar pemerintah untuk menjalankan roda "perusahaan" yang bernama Indonesia ini.
 Lha yang rancu, kok ada istilah BANTUAN UNTUK RAKYAT ? Kok karyawan malah ngasih bantuan ke pemilik negara ini ya? Ini bener-bener lucu, seharusnya namanya ya bukan bantuan. Itu ya kita sebagai rakyat dapat bagian keuntungan atas uang yang kita bayarkan kepada pemerintah"

Kewolak-walik kalau kata orang Jawa. Sudah tidak jelas siapa yang benar, siapa yang jujur dan layak dipercaya. Terlalu banyak intrik dalam setiap hal yang dimunculkan oleh para pemimpin bangsa. Anyway, tak ada alasan untuk pesimis. Negeri Indonesia tetaplah negeri yang besar dengan segala potensinya. Sebagaimana lagu milik Pujiono, MANISNYA NEGERIKU. Lagu yang bagi saya membangkitkan inspirasi untuk kemudian tergerak memberikan kontribusi lebih banyak kepada Indonesia. 


http://www.youtube.com/watch?v=QOb6bUSWxn0

Saturday, April 12, 2014

Alhamdulillaah... Untukmu Bidadariku

Bismillahirrahmaanirrahiim.....

12 April 2014.

Hari yang sangat spesial bagi saya. Bagaimana tidak? Tepat di tanggal ini... beberapa puluh tahun yang lalu, dari rahim seorang ibu yang mulia, terlahirlah seorang wanita yang juga sangat mulia, ramah hatinya, dia yang telah Allah pilihkan untuk menjadi pendamping hidup saya. Seorang wanita hebat yang saya sangat bersyukur bisa dekat dengannya dalam ikatan keluarga, dia yang bernama Ilma Rizkia Rahma.

Bukan sebuah kebetulan saat kemudian Allah pertemukan saya dengan beliau. Ada sebuah skenario yang telah Dia siapkan dengan begitu sempurna. Mengenai keberadaan kami masing-masing untuk bisa saling melengkapi dalam hal-hal yang sudah dan akan kami jalani nantinya dalam hidup. Berbedakah kami? Tentu saja iya, karena itulah diciptakan olehNya kepada setiap manusia yang dikehendakiNya sebuah pasangan. 

Pasangan adalah dua individu berbeda yang dipertemukan olehNya. Kemudian Dia himpun mereka dalam ikatan yang suci, mulia dan penuh barakahNya, pernikahan. Maka dalam perbedaan ini, justru saya sangat bersyukur karena dari situlah tercipta sebuah sinergi, kekuatan baru yang insya Allah jauh lebih positif dan berpotensi menghasilkan lebih banyak kemanfaatan dalam hidup.

Tulisan ini sekedar ungkapan rasa syukur saya kepada Allah karena masih diberikan kesempatan untuk sekedar membuatnya tersenyum di pagi hari saat beliau terbangun dengan mengucapkan..."Selamat Hari Lahir.. Ai" dengan segenap rangkaian doanya. 

Tulisan ini sekedar ungkapan hati saya betapa saya sangat bersyukur karena Allah telah izinkan hatinya untuk menerima pinangan saya menjadi pendamping hidup saya. Ah betapa Allah sangat baik, mempertemukan saya yang hanya insan biasa ini dengan bidadariNya yang sungguh cantik dan mulia hatinya. 

Tulisan ini sekedar ungkapan hati saya kepada Abah, Ummi... -salam takdzim saya kepada beliau- karena doa, didikan beliaulah sehingga isteri saya menjadi sosok yang luar biasa. Saya pun berterima kasih karena beliau berdua telah berkenan memberikan kepercayaan kepada saya untuk menjadi penerus beliau dalam membimbing dan memimpin puterinya, menerima saya sebagai menantu beliau.

--------------------------------------------------------------------------------------------
Saya hanya tersenyum saat isteri saya berkata..."Ai... kadonya disayang Ai terus sampai tahun depan yaa". Ingin menangis rasanya mendengar permintaannya yang terkesan sederhana itu. Saya tak pernah tahu sampai kapan Allah berikan waktu kepada saya untuk terus di sisinya. Lebih dari itu, sejauh ini sepertinya saya merasa masih jauh dari sosok seorang imam yang bisa menyayanginya serta membuatnya bahagia.

Bagi saya, saat saya menuliskan tulisan ini, merupakan momentum bagi diri saya untuk kemudian terus berikhtiar menjadikan diri saya lebih baik lagi, menjadi seorang yang Imam keluarga yang lebih amanah, untuk sebuah keluarga yang dicintai dan diberkahiNya. Sebuah komitmen untuk lebih menghargai setiap kesempatan hidup yang masih diberikanNya untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat. Dilandasi sebuah kesadaran bahwa ada sebuah pertanggungjawaban yang harus saya sampaikan kepadaNya kelak pada saatnya.

Ai..... (demikian panggilan saya pada isteri saya ini)
Selamat hari lahir yaa....

Semoga Allah selalu berikan barakahNya dalam setiap kesempatan hidup yang masih diberikanNya kepadamu

Engkau adalah pribadi yang matang dan dewasa, pun dengan bertambahnya usiamu semoga engkau menjadi semakin matang dan dewasa...

Engkau adalah pribadi yang berhati mulia, pun dengan bertambahnya usiamu semoga engkau menjadi pribadi yang berhati semakin mulia...

Engkau adalah hambanya yang sholihah, pun dengan bertambahnya usiamu, semoga engkau menjadi lebih sholihah...semakin dekat dan terpaut hatimu denganNya...

Semoga Allah jaga agar engkau bisa tetap menjadi seorang pendamping hidup yang baik menurutNya. Kelak,semoga Dia jaga pula engkau untuk bisa menjadi seorang ibu yang mulia bagi anak-anak kita.

Sesuai dengan namamu, semoga semakin banyak Ilmu yang bisa engkau dapatkan, terapkan dan ajarkan dalam nuansa kebaikan serta manfaat. Semoga keberadaanmu selalu bisa menjadi saranaNya untuk melimpahkan rizki dan keberkahan pada dirimu sendiri maupun sekitarmu. 

----------------------------------------------------------------------------------------------
Allah... jaga kami untuk selalu dalam lindungan dan petunjukMu
Mudahkan kami dalam menjalani tahapan kehidupan kami selanjutnya
Berikan kami kekuatan dan kesabaran untuk terus menjaga iman
Berikan kami kemudahan untuk terus menjaga niat dalam setiap aktivitas yang kami jalani... agar selalu terpaut padaMu, untukMu, karenaMu...

Sebab kami tak mungkin bisa menjalani semua tanpaMu
Kami hanyalah hambaMu yang lemah tanpa semua kemurahanMu
Iyyaa.. kana' budu waiyya kanasta'iin....
Ihdinasshiraatalmustaqiim....
Berkahi kami, keluarga kami, orang tua kami, sanak saudara kami dan seluruh sahabat yang telah menguatkan kami dengan doa dan nasehatnya...

-----------------------------------------------------------------------------------------------

Ai...terima kasih telah memberikan kepercayaan ini kepada saya
Terima kasih untuk setiap kesabaran dan dukungan yang telah diberikan
Terima kasih untuk luasnya penerimaan terhadap diri ini apa adanya
Terima kasih untuk kesediaan untuk mendengarkah setiap keluh kesah yang saya rasakan
Terima kasih untuk tetap dalam kesetiaan yang menenenangkan
Terima kasih untuk setiap doa tulus yang terpanjatkan

Maaf jika belum selalu bisa membuatmu tersenyum
Maaf jika belum selalu bisa mendukung di setiap hal
Maaf jika masih banyak kekurangan dalam diri ini
Maaf jika pernah mengecewakanmu...

Insya Allah akan selalu terjaga sebuah kepercayaan, sebagaimana nasehat ibu...."Nak...saat kamu sudah diberikanNya wanita yang mencintaimu, mau menerimamu apa adanya... jangan sampai kau membuatnya sakit hati, jangan sampai kau mengawali sebuah ketidaknyamanan kepadanya. Jaga dia sebaik-baiknya"

Insya Allah.... tidak hanya tahun depan, tapi juga tahun-tahun berikutnya..selagi Allah masih berikan kesempatan kepada saya, KADO yang engkau minta akan tetap berlaku....

----------Yogyakarta, 13 April 2014-------------------

*Ditulis dengan sebuah perasaan yang penuh har,penuh cinta dan kasih sayang juga dengan rasa yang bahagia. Insya Allah, perasaan yang sama semoga tetap Allah jaga saat saya membaca tulisan ini 10 tahun, 20 tahun, dan seterusnya dalam batasan waktu yang terbaik menurutNya untuk kita dipertemukan di dunia dalam ikatan keluarga yang insya Allah Sakinah, Mawaddah, Warrahmah.....

*Ditulis dengan diiringi backsound Adzan yang memanggil saya berhenti sejenak untuk shalat dzuhur, juga dengan iringan lagu "Akhirnya ku Menemukanmu, Aku Lelakimu serta If Tomorrow Never Comes"--- Soundtrack of My Love Story ^_^

*Terima kasih kepada Bapak dan Ibu atas doa dan bimbingannya, terima kasih untuk adek saya tercinta Wening Susanti Amungkasi atas doa dan supportnya juga (selamat hari lahir juga yaa tanggal 3 April kemarin) , untuk dhe Izza juga yang semoga Allah mudahkan proses untuk menyempurnakan separuh agamanya (nyicil ngucapin ultah juga deh tanggal 22 April besok), terima kasih untuk sahabat hebat Hendri Harjanto dan Rusmadianto (yang ultahnya juga April tanggal 7, selamat broo)... teman sharing yang luar biasa.... dan terima kasih juga untuk semua rekan atas doa dan dukungannya....




Sunday, April 6, 2014

P.E.M.I.L.U sebentar lagi

Tak terasa beberapa hari lagi kembali akan bertemu dengan sebuah peristiwa yang disebut sebagai pesta demokrasi. Sebut saja namanya PEMILU.. (jiaah..emang namanya itu kalii..haha..). Setiap 5 tahun sekali negara Indonesia ini mengalaminya. Tujuannya (yang saya tahu) untuk menyelenggarakan sistem demokrasi dalam pemerintahan negara kesatuan Republik Indonesia. 

Saya sendiri termasuk awam dengan dunia perpolitikan di tanah air ini. Kaitannya dengan pemilu ini, kalau dulu saat kecil saya termasuk yang antusias menyambutnya. Waa.. bakal ada rame-rame, bakal ada muter-muter kota naik mobil (baca :kampanye), bakal ada posko di mana-mana, bakal ada bendera warna-warni di mana-mana. Demikianlah bayangan seorang saya kecil di masa lalu.

Seiring bertambahnya usia saya, entah mengapa saya termasuk bagian dari orang-orang yang tidak terlalu antusias menyambut pemilu ini. Pemilu yang seharusnya menjadi titik kemajuan lanjut sebuah bangsa, seakan justru menjadi titik awal kembali untuk pembangunan bangsa. 

Masing-masing pihak sibuk memperjuangkan kepentingannya masing-masing. Tak peduli sikut sana, sikut sini yang penting kepentingan pribadi dan golongan terwakili. Pergantian pemimpin, pergantian 'wakil rakyat' tidak selalu identik dengan pergantian nasib bangsa menjadi lebih baik lagi. Saya pun meragukan istilah 'wakil rakyat' ini. Pertanyaannya kalau mereka menyebut 'wakil rakyat' adalah Rakyat yang mana yang mereka wakili? Seberapa banyak jumlahnya? Seberapa tahu mereka dengan kondisi detail wilayah yang mereka menjadi wakilnya?

Okelah, mungkin masih ada satu dua orang yang memang benar-benar amanah dengan apa yang diembannya. Mereka yang ingin berbuat untuk memajukan bangsa Indonesia ini. Mereka yang ingin melibatkan diri dalam birokrasi yang sudah semakin tak bertata krama. Vicious Circle, demikian beberapa rekan saya menyebut sistem birokrasi di bangsa Indonesia ini. 

Input SDM yang baik tidak selalu melahirkan output yang berkualitas sama. Mereka yang bisa bertahan dalam sistem adalah mereka yang sudah siap dengan segala tekanan yang akan datang padanya, atau mereka yang kemudian mau berjuang sehingga memiliki posisi yang cukup mapan dalam institusinya. Itupun masih tak luput dari jeratan-jeratan kasus 'ciptaan' yang akhirnya menjatuhkannya juga.

Pesimis amat? Hehe...ngga juga kok. Hanya ingin menyalurkan uneg-uneg saya. Tidak ada gunanya juga terus mengeluh dan mengkritisi saja tanpa melakukan apapun. Saya yakin masih ada jalan yang akan diberikanNya kepada bangsa Indonesia ini untuk menjadi lebih baik. Tentu saja, kontribusi positif anak bangsa ini sangat diperlukan. Negara memerlukan mereka yang tidak egois tapi juga mau berbagi, sekecil apapun itu. Entah lewat tulisan, entah lewat perkataan, entah lewat tindakan positif apapun itu. 

Mari beraksi untuk Indonesia sobat!!

Ijinkan Aku menjadi Jembatan KemuliaanMu

Hampir 2 minggu saya belum menulis lagi di blog ini. Entah kenapa, tak ada sesuatu yang menggerakkan saya untuk menulis lagi. Sampai kemudian saya mendapatkan kosakata yang menurut saya sederhana, tapi sungguh bermakna, terutama bagi saya pribadi. 

Pencarian tentang makna hidup, tujuan hidup, memang tidak akan pernah berakhir. Pertanyaan-pertanyaan mendasar yang perlu kita jawab seperti, "Dari mana kita berasal?", kemudian "Untuk apa kita diciptakan", lalu "Kemana kita akan kembali?" seakan terus terbayang dalam benak ini. Mengajak diri untuk sejenak berdiskusi dengan hati, "Bro... ente mau pergi ke mana lagi? Ngerasa udah cukup dengan semua capaian maupun semua "kebaikan" yang udah ente lakuin?". Pertanyaan yang kemudian dijawab " Entahlah sobat... ane juga lagi mikirin ini. Masa dengan segenap ilmu dan pengalaman yang ditiipin ama ane ini, cuman segini yang bisa ane lakuin sih?".

"Ooh... ya bagus kalau ente mikir begitu, terus kira-kira apa yang bisa ente lakuin nih, yang praktis, dan ente langsung bisa lakukan tanpa perlu banyak effort?" pancing dia bertanya lagi. "Hmm... apaan yak, nulis kali" jawabnya.

"Wehehehe... ente itu lucu bro. Udah jelas di benak ente itu pasti banyak ide, banyak ilmu, banyak pengalaman, yang semuanya bisa ente bungkus dalam bentuk tulisan, ngapain kagak ente wujudkan?" tanya dia lagi.

"Iya sih...tapi... rasanya kok masih belum bersemangat nih" jawabnya lagi.
"Hahahaha... nah ini dia nih, sering nyemangatin orang, tapi nyemangatin diri sendiri kagak bisa. Udah, sekarang coba ente temuin dulu nih. Kira-kira landasan berpikir dan rasa yang model apa yang bisa ente gunakan buat nyemangatin ente?" ujarnya santai.

"Waduh...bener-bener di Sob, ane bingung" jawabnya.
"Waaa... ini nih. Udah gini aja deh, kalau motivasi ente nulis itu masih dari eksternal, dijamin kagak berlangsung lama. Sekarang temuin dulu itu motipasi internalnya. Oke, biar gampang, sekarang ane tanya.. Ente punya mata? Punya telinga? Punya tangan? Punya jari?" tanya dia serius.

"Ya jelas punya doong, udah jelas nih" jawabnya sambil nunjukin mata, telinga, tangan dan jarinya.
"Baguus, kalau ente punya, ya harusnya ente gunain dengan sebaik-baiknya laah, kudu bersyukur ente, dikaruniai mata. Ente bisa gunain untuk baca apapun, belajar apapun. kemudian lanjutkan dengan penggunaan tanganmu untuk membaginya lewat tulisan. Ente punya telinga? Ente bisa gunain untuk mendengarkan nasehat orang, cerita orang, terus ente bisa gunain itu untuk bahan tulisan yang bisa ente buat dengan tangan dan jari-jari ente" ujarnya panjang lebar.

"Oke-oke...menarik banget, tolong dong, kasih ringkasannya dalam satu kata yang bisa mewakili semua yang udah ente sampaikan tadi" pintanya.

"Tuhan ... Ijinkan Aku menjadi Jembatan KemuliaanMu" tutupnya.

Dan kosakata "Tuhan ... Ijinkan Aku menjadi Jembatan KemuliaanMu" itulah jawabnya.

#Nglilir terus nulis lagi.

Sunday, March 23, 2014

Membaca Alam (Part 3)

Sepulang dari Pemalang, kami mampir Purworejo terlebih dahulu sebelum paginya ke Jogja karena ada beberapa aktivitas yang harus diselesaikan..
Awalnya, saya berencana menggunakan travel untuk pulang ke Jogja. Dari rumah Purworejo, saya diantar isteri menuju salah satu penyedia jasa travel yang ada. Begitu sampai di pos travel (saat itu menunjukkan jam 12.55), oleh petugas diinformasikan bahwa travel terdekat yang ke Jogja baru datang jam 13.30. 
Sempat berpikir sebentar sebelum akhirnya memutuskan untuk melihat dulu ke tempat pemberhentian bus terdekat, barangkali ada bus yang sudah siap berangkat. Sembari tetap mengatur waktu untuk bisa kembali ke pos travel tepat waktu jika ternyata tidak ada bus yang standby di tempat pemberhentiannya. Ternyata di tempat pemberhentian bus, SUDAH ADA bus yang menunggu dan segera berangkat pula.

#Noted : there is no failure only feedback, tidak ada kegagalan, yang ada umpan balik. MELANGKAHLAH, MAJULAH.... tanpa melangkah, kita tidak akan tahu jalan baru, pengalaman baru. Selalu ada risiko di setiap hal yang kita lalui. Perlukah pertimbangan? Tentu saja perlu. Setelah itu? Ya JALANI. Toh risiko itu tidak selalu dalam bentuk yang tidak menyenangkan bukan?

Dalam bus, saya duduk di samping seorang pria paruh baya yang awalnya tampak tidak peduli dengan kedatangan saya yang tiba-tiba duduk di samping beliau. Sampai beberapa saat berlalu, tiba-tiba saja barang yang beliau bawa terjatuh dari pangkuannya. Oh, ternyata bapak ini mengantuk, hehe...

Ngantuk yang membawa berkah, haha... Lho kok bisa? karena setelah barangnya  jatuh itu, beliau akhirnya mulai membuka komunikasi dengan saya. Mulai dari basa-basi sejenak, sampai akhirnya saya memposisikan diri sebagai pendengar setia atas apa yang beliau ceritakan, sambil beberapa kali mengajukan pertanyaan untuk memancing cerita selanjutnya. 

Bapak ini namanya pak Edy, beliau adalah pensiunan salah satu BUMN. Usia beliau sudah 60-an lebih. Beliau ternyata berasal dari keturunan Batak. Tepatnya Batak Simalungun, beliau bermarga Damanik. Sebuah rangkaian cerita yang sangat menarik dari pak Edy. Setiap suku ternyata memiliki adat-istiadat yang berbeda. Beliau menceritakan mengenai bagaimana susunan kekerabatan dari suku Batak yang mana kalau orang batak itu dalam penyebutan kerabat jauh lebih spesifik. Tidak hanya cukup Om, Tante, Pakdhe , Budhe, tapi dibedakan. Misalnya saja paman, bisa disebut Tulang bisa disebut Amang, tergantung jalurnya. Kemudian dilanjutkan dengan prosesi pernikahan, prosesi kematian sampai proses pemberian marga.

Indonesia sangat kaya dengan budayanya, itu baru Batak, belum lagi suku-suku yang lain. Di akhir pembicaraan Pak Edy berpesan, "Mas... mumpung masih muda, ayo keliling Indonesia. Saya yakin Anda bisa"

#TErima kasih pak Edy :)